Selasa, 10 April 2012

Penanganan banjir di Kuala Lumpur, Malaysia

 
Penanganan banjir di Kuala Lumpur, Malaysia









bisa menjadi contoh kota-kota di Indonesia menjadi langganan banjir. Dengan menerapkan Smart (Storm Management and Road Tunnel) Malaysia, sukses menangani banjir. Wartawati Radar Malang Yulianti berkesempatan mengunjungi instansi ini 9-12 Juli lalu bersama Kirana Tour and Travel. Berikut catatannya.

Sejak 82 tahun lalu, Kuala Lumpur tidak pernah berhenti dilanda banjir dahsyat. Banjir terburuk terjadi pada 1926. Air sempat menenggelamkan Kuala Lumpur. Lalu, banjir terjadi lagi pada 1949 dan 1971.
Kala itu, seluruh infrastruktur kota rusak dan aktivitas kota lumpuh akibat serangan banjir yang selalu datang lebih dari satu meter.

Pasca banjir bandang itulah, pemerintah Malaysia mulai memutar otak mencari solusi proyek penanganan banjir. Di tengah memikirkan proyek mengatasi banjir, peristiwa banjir besar pun terulang kembali. Lagi-lagi, Kuala Lumpur tenggelam. ''Itu terjadi tahun 2003. Malah ini merupakan bencana banjir terburuk,'' kenang Dato'Paduka Ir H Keizrul Bin Abdullah, director general Departement of Irigasi and Drainage (DID), Malaysia.

Sejak itu, masalah banjir di Kuala Lumpur menjadi perhatian khusus. DID pun memfokuskan sebagai kerja utama. Dalam beberapa waktu, sumber daya manusia (SDM) DID belajar ke Jerman, Jepang, hingga Prancis untuk menggali teknologi termutakhir dalam penerapan banjir.

Setelah memburu teknologi termutakhir dari berbagai negara maju, pemerintah bersama para pakar drainase menerapkan Smart. Proyek pun digeber setelah pemerintah menyetujui proyek kanal Smart tersebut.

Kontruksi proyek dimulai pada 2003 dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya manusia dari Malaysia. Terowongan (tunnel) ini panjangnya sekitar empat kilometer dengan dual deck (dua lapis jalan) berdiameter 13,2 meter. Lokasi kanal ini berawal di pond Kampung Berembang dan berakhir di pond Taman Desa.

Terowongan ini berfungsi mengalihkan arus banjir dari pertemuan dua sungai besar, Sungai Ampang dan Klang). Dua sungai ini melewati pusat kota Kuala Lumpur. "Terowongan ini sebagai pemecah arus air bah karena banjir yang datang sekonyong-konyong. Aliran banjir langsung masuk ke terowongan, lalu diteruskan ke kolam (pond) yang sudah disiapkan," ucap Roslina Shahadan, section pengawasan banjir Pusat Kawalan Smart Jawatan Pengairan dan Saliran, Malaysia, yang mengatar rombongan keliling kanal.

Operasional aktivitas pemantauan banjir sekaligus cara kerja kanal Smart 24 jam. Ada 20 pekerja mengontrol kanal ini non-stop.

Memang, Kuala Lumpur dikelilingi beberapa bentangan sungai. Yakni Sungai Klang, Gombak, dan Ampang. Aliran ketiga sungai ini dipertemukan dalam satu titik untuk mendukung operasional kanal Smart. Ketika hujan lebat, air bisa mengalir sebanyak 150 meter kubik per detik (cumic). Sebanyak 280 cumic dikirimkan ke kolam Berembang melalui kanal Smart.

"Praktis, aliran air saat hujan lebat hanya boleh masuk ke Kuala Lumpur hanya 10 cumic saja. Sisanya, masuk ke dalam pond."

Pada 2004-2007, untuk mendukung operasional kanal Smart ini, Sungai Ampang dan Sungai Klang dibagi menjadi dua aliran menuju jalan kanal. Operasional resmi kanal Smart ini pada Juni 2007.

Roslina mencontohkan Sungai Klang yang sudah sejak 100 tahun ini aliran airnya 180 cumic. Ketika hujan lebat, kelebihan airnya dialirkan ke kanal Smart yang ada di dekat Sungai Klang. Tepatnya di kolam (pond) Taman Desa. Air yang seharusnya menjadi banjir di Kuala Lumpur ini disimpan ke kolam. Lalu, dari kolam air didistribusikan ke Sungai Krayong.

Dari situlah lalu diteruskan ke kolam dekatnya di kawasan Sri Johar. "Kolam-kolam ini dimanfaatkan untuk mengawal banjir, karena tidak semua kolam cukup, maka aliran dari Sungai Krayong, dialirkan ke kanal Smart," jelas Roslina.

Sejak dibangunnya kanal itu, sudah setahun ini Kuala Lumpur bebas banjir. Keberhasilan itu membuat Pemerintah Malaysia menyebut kesuksesannya itu sebagai proyek paling spektakuler pertama di Asia
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar